
Lembar cuti telah di ACC manager sebulan lalu. Sementara, tiket pesawat
telah dibooking 3 bulan sebulannya. Ini beneran liburanyang amat
terencana. Kecuali hotel, persiapan lainnya telah disusun. Bahkan
itineraire, dan buku panduan liburan pun sudah siap. Yup, jelang ulang
tahunku, aku mau liburan ke Jogja.
Namun, rencana itu berangsut kian
suram. Status merapi tiap harinya kian ditingkatkan. Yang menjadi
kekhawatiran utamaku adalah jika keadaan tidak kunjung membaik, maka,
mau tidak mau penerbanganku dibatalkan. Memang ini kasus force major.
Semua biaya yang dikeluarkan akan diganti (baca: refund) oleh maskapai.
Tapi, itu tak begitu saja mudah untukku membatalkan perjalananku ke
Jogja.
Alih-alih maksa berangkat, seminggu
sebelum berangkat, aku antri tiket promo. Niatku, merubah jadwal cuti.
Berangkat mundur, maka pulang pun mundur. Aku dapat tiket one-way 120K
idr. Tapi, semua kemudian gugur. Penerbangan ke dan dari Jogja semua
dibatalkan. Merapi tidak dapat dikendalikan. Debu dan pasir mengancam
penerbangan.
Aku bersiasat, aku harus ke Jogja. Tapi untuk apa?
Begitu teman-teman bertanya. Aku tahu, ini keputusan bodoh, jika aku
tetap ke Jogja.
Rencana cuti, memang pada akhirnya, mau tidak mau
diketahui kantor. Dan kantor pun kemudian fokus untuk mengirimkan team
ke Merapi. Cuti!