Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, September 8, 2013

Sensasi Jarum untuk Apheresis

Hal yang terakhir aku lakukan setelah semua ku lesakkan di dalam loker adalah ngecek pesan di blackberry untuk terakhir kalinya.
“Ping”
“Oke, dari Maya”, bisikku pelan.
“Lo stand by ya, Di. Segera ke Kramat. Ada yang butuh Aphe”.

“Jam berapa? Di screening dulu, kan? Screening gw dah ga valid, itu setahun lalu.”
“Jam 7 malam. Gue kasih nomer telpon lo ke keluarga pasien. Dan ini nomer keluarga pasiennya juga. Dan, yah, lo akan discreening dulu”.
Aku tahu ini sejenis komunikasi seperti apa. Call alert untuk aku, dengan sandi “Stand By”.
Ku hela nafas dalam, sambil pikiran menjelajah ingatan tujuh hari ke belakang. Aku tidak mengonsumsi obat-obatan, tidak minum antibiotik, dll. Aman.
Tapi, aku pastikan aku kurang tidur, dan beberapa hari ini aku kurang asupan minum. Aku nggak mau nantinya justru gagal dan tidak lolos screening, karena hemoglobinku kekentalan.
Ah, sudahlah, pasrah. Kalau memang rejeki, pasti keluarga pasien itu mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tidak berapa lama....
“Malam, mas Adhie”

Sunday, July 28, 2013

Bunuh Diri Digital

Baru menyadari kalau memiliki #FakeName itu cukup menguntungkan. Kenapa? Temukan saja jawaban di akhir artikel ini, berikut pesan moralnya apa.
Nama yang aku gunakan sekarang #AdhiePamungkas, sesungguhnya bukanlah nama asli. Jauh bahkan, antara nama pemberian orang tua dengan yang aku gunakan sekarang. Tidak ada kaitannya, meski maksud tersirat ada, antara Adhie sebagai nama panggilan yang populer aku gunakan sejak satu SMP, dan Pamungkas yang populer aku gunakan semenjak masuk dunia kerja. 2010, yup sejak saat itulah aku lebih dikenal dengan nama panggilan Adhie Pamungkas. Di saat menulis artikel untuk majalan dwi mingguan aku menggunakan inisial AD, bukan AP- semestinya.

Tuesday, July 23, 2013

Dari Sosmed ke Kopi Darat

 @lombokvacation, account twitter inilah kali pertamanya aku berhubungan dengan warga lokal tujuan perjalananku via jejaring sosial. Meski frekuensi komunikasi tidak sering, dan bahkan tidak berbalas follow back, tetap account twitter ini jadi acuan rekomendasi perjalanan ku ke Lombok. Ini terjadi pada pertengahan tahun 2011.
Lombok sebenarnya bukan tujuan awal, Bali utamanya. Namun, karena Bali pernah ku kunjungi, aku kemudian, menambah rute perjalanan ke Lombok. Ini menjadi pekerjaan rumah, karena riset rute yang awalnya di luar kepala, kini ku harus memulai dari awal lagi. Belajar geografi!!!
Dengan memiliki waktu libur enam hari, aku membagi pulau Lombok menjadi bagian mata angin, Lombok Utara, Barat, Tengah, Selatan, Timur, dan tentunya Kepulauan.
Namun, dengan realistis, aku menghilangkan Lombok Timur dari daftar perjalanan.
Ku habiskan hari pertama dengan cruising motor, menyusuri Senggigi sampai ke pelabuhan penyebrangan ke 3G.
Bukannya putar balik ke arah berlawanan, aku justru melanjutkan rute lain dengan modal percaya diri. Yang kemudian kepercayaan diri itu perlahan memudar sepuluh menit setelah lepas dari jalan pemukiman. Selanjutnya, yang ku dapati adalah hutan.

Monday, December 10, 2012

Percaya Diri atau Kepedean?

Sedang berada di sebuah kedai kopi di pusat perbelanjaan di pusat Jakarta. Interior retro dengan terdengar sayup-sayup musik mana suka.
Tidak ada masalah sebenarnya aku berada di sini. Mencoba selalu nyaman dengan keberadaanku sendiri. Iya, benar, banyak orang yang telah duduk jauh lama dariku. Buktinya? Minuman tinggal setengah. Contoh mudah, tanpa perlu tendensi apapun.
Tapi, sayangnya, yang perlu ku cermati adalah bagian ini adalah bagian bebas asap rokok, tapi entah kenapa wanita sejurus didepanku, justru asik mengapit sebatang rokok di antara dua jemarinya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan asap rokok dan merapihkan rambutnya.

Sunday, April 15, 2012

Terjerembab, Terperosok, Terpelanting (Antalogy Jakarta)

04:30 Alarm berbunyi. Setengah bergeliat, dan setengah bernyawa, aku kemudian jejakan kaki ke lantai dan menuju kamar mandi, bersiap untuk ke kantor. Setengah hati ku lakukan ini, karena  selalu saja aku berpikir kalau terlalu dini memulai hari. Padahal rutinitas ini telah aku jalani sejak 4 bulan terakhir. Dan selama waktu itu pula, jalan pikiranku belum berubah. Membandel.
Ritual selanjutnya adalah memanaskan mesin motor. Menyiapkan helm, kacamata, penutup hidung, sarung tangan, dan jaket. Dan tidak berapa lama, aku pun telah berada di jalan raya.
Aku melepaskan pandangan ke pengendara motor yang perlahan menyesak di lampu merah. Dan kemudian aku berhenti mengutuk diri. Dengan setengah berteriak, "Hey, aku tidak sendiri".
Cukup banyak pula warga Jakarta yang telah memulai hari terlalu dini. Padahal dingin masih menggigit. Apalagi saat motor melaju dengan cepat, maka kecepatan angin yang diterimanya berbanding lurus dengan dinginnya angin yang diterima.
Lalu lintas pagi itu menyenangkan, terutama padat lalu lintas yang jarang ditemui. Lengang, bahkan bisa dikatakan teramat sepi. Setidaknya begitulah pengamatanku selama ini.  Motor ku pun bisa ku pacu hingga 60 KM/ Jam.