Showing posts with label Johor Bahru. Show all posts
Showing posts with label Johor Bahru. Show all posts

Tuesday, May 3, 2011

Itineraire 6D/5N Lintas Pesisir Melaka

Merlion Hotel, Singapore Bienalle
Hari Pertama

CGK - Sing Morning flight 
Half Day Tour in Singapura

Sore Crossing boarding to Malaysia via Johor Bahru
(*lucky me dapat tumpangan nyebrang ke perbatasan)

Stay @ Tune Hotel di Danga Bay - Johor Bahru
Tune Hotel Danga Bay - JB


Hari Kedua

Pagi ke Melaka dengan bus dari Terminal Larkin Johor Bahru. 

1st day di Melaka
Half Day Tour

Stay 2d/1n @ Backpacker's Freak Hostel

Itineraire Selat Malaka

Trip 6D/ 5N Selat Malaka

Thursday, April 28, 2011

Bye, Mate :)

05:30 ku bangun lebih awal. Sholat Subuh, kemudian persiapan terakhir untuk menempuh perjalanan ke kota berikutnya, Melaka. Saat matahari sudah menampakkan wujud dan hawa panasnya, aku turun dari lantai 4, menuju lobi, untuk kemudian keliling sekitar hotel.
Tapi, tujuan utamaku adalah mencari sarapan.
Well, ga ada yang banyak bisa dicari di sekililing hotel ini. Tidak bisa direkomendasikan, hanya ingin segera pergi. Meski kemudian aku tertahan di depan Seven Eleven, sekedar basa basi beli juz yang sebenarnya aku tidak perlu banget.
Menghangatkan badan? Nop, sungguh gila. Danga Bay, cukup untuk wisata malam berjalan kaki bersama Asril, dan itu tidak akan aku lakukan untuk hari berikutnya. Eksplor kota ini lain waktu, dan itu pasti. Tapi, kini, semua di sekelilingku, hanya pekerjaan proyek yang digarap pemerintah lokal. Sepi, teramat sepi. Aku hanya berani berjalan di dalam area tembok.  Bergeser sedikit. No way. Mungkin perlu waktu lebih lama untuk membiasakan diri dengan kota ini.
Dan, jam 8 Asril pun muncul. Oke, this is it. Time to say goodbye to him.

Keluarga Baru di Johor Bahru

Jam 7 malam, aku turun dari kamar menuju lobi. Tak lama berdiri, sebuah sedan berhenti di depan hotel. Aku mencoba mengenali sedan itu sambil mendekat. Tidak berapa lama, jendela diturunkan. Si pemilik mobil senyum, kemudian menyapa. Tepat waktu bener, ucapku dalam hati. Aku pun beringsut masuk ke dalam mobil. Malam itu sesuai janji, Asril mengajakku makan malam bersama keluarganya.
Danga Bay tampak sepi malam itu. Lengang. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Mobil-mobil warga pun jarang terlihat. Dan jalan besar nan lebar ini rasanya lebih pas dijadikan arena rally, karena mobil pun bisa melaju dengan kencang. Nggak sabar rasanya ingin segera eksplor Danga Bay di malam hari. Untuk cari tahu kehidupan malam kota ini.
Danga Bay itu jadi, distrik, atau lebih tepatnya, dengan menggunakan istilah di Jakarta adalah kotamadya dari Johor Bahru (JB). Letaknya di tepian laut. Makanya disebut Danga Bay. Ehehehe
"Saya tak bisa ke Melaka esok hari karena temani anak tanding futsal", ucap Asril tiba-tiba.
Drop.
Tarik nafas dalam.

Wednesday, April 27, 2011

Crossing Abroad Singapore - Malaysia

Sisa waktuku di Singapura, kini ditemani Asril, seorang graphic designer dan juga photographer profesional. Dan aku yang biasanya menyembunyikan kehidupan profesionalku saat ditanya orang asing, justru saat itu aku begitu terbuka kepada Asril, kalau aku seorang TV journalist. Padahal, biasanya aku selalu menjawab bekerja di perusahaan asuransi. Upz
Sesuai kesepakatan bersama, aku pun mengiyakan ajakan Asril ke Changi untuk mengambil mobilnya dan bersama kemudian menyebrangi perbatasan.
Alhamdulillah, itu yang aku ucap dalam hati saat bertemu dan berkenalan dengannya. Tanpa keraguan sedikitpun aku menerima kebaikannya. Aku pun yang sejak beberapa jam tiba, selalu memasang muka kecut dan senyum seadanya, kini ada ketenangan. Yup, aku ada teman bicara, setidaknya untuk beberapa jam ke depan.
Tapi, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Aku dihentikan oleh petugas jaga yang memintaku untuk membongkar isi tas ku. Aku yang awalnya merasa keberatan, terpaksa membuka tas ransel. Padahal semua itu sudah tersusun rapih, dan aku malas untuk merapihkannya. Dan permintaan petugas jaga itu sungguh berlebihan, bagian dalam tas ku juga dimintanya untuk dibuka. Aku pasang muka kesal. Namun, saat itu Asril menenangkan ku. Ia sendiri, bertanya, kenapa tas miliknya tidak dibuka. Petugas jaga itu bilang, cukup aku saja. Kupret!
Aku yang kemudian merasa seperti penjahat. Merasa dianggap bersalah. Perlakuan ini sungguh diskriminatif. Ini beneran nggak bikin aku nyaman seketika. Bagaimana jika kemudian dia iseng meletakkan sesuatu di tasku, dan menganggap ini adalah kasus? Dan bagaimana jika kemudian aku digiring ke kantor polisi atas tuduhan rekayasa? Oke, semua itu terlintas di benakku. Teroris? WTF!!!
Jika saat itu aku sendiri, mungkin aku sudah keluar keringat dingin. Iya, aku tahu, aku tidak perlu khawatir jika tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi, yah, tetap saja. Belakangan aku menyadari dan teringat, sepanjang perjalanan ku dengan MRT, selalu ada peringatan dari pengeras suara yang mengatakan, 'jika menemukan benda mencurigakan, segera lah melapor'. So aku dan tasku adalah benda mencurigakan? Kupret!!!
"Semua sudah selesai, Anda bisa bisa menutup tas Anda," ucapnya datar
"Oke, terima kasih, telah merepotkan saya, karena harus merapihkan tas kembali", jawab ku ketus.
Asril di samping ku, menepuk bahuku, isyarat agar tidak emosional.
Usai insiden itu, kami lanjutkan perjalanan kami.
Menuju Changi, kami, layaknya teman lama, perbincangan begitu cair. Ngobrolin hobi, pekerjaan, dan cerita perjalanan. Ini sungguh menyenangkan. Tidak henti-hentinya kami ngobrol sepanjang perjalanan.
"Usia saya 35 tahun, telah menikah dan punya 2 orang anak", ucapnya saat kami berada di stasiun tanah merah, karena harus ganti kereta ke Changi. "What? Kamu nggak bohong, kan? Kamu tampak lebih muda dari usia mu."
"Yes, I'm 35 years old, Adhie", ucapnya meyakinkanku.
Aku coba memandanginya lekat, dari ujung rambut sampai kaki.
Aku tak bisa konfirmasi apa lagi. Ngga sopan pula jika kemudian aku tanya ini itu.
"Kenapa? Masih kaget?", tanya Asril lagi, ketika suasana menjadi senyap.
"Nop", jawabku tanpa berpikir panjang.
Kereta kemudian tiba, perjalanan pun kami lanjutkan. 10 menit kemudian kami tiba di Changi. Setelah itu menuju parkiran. Di parkiran, kami membakar kalori selama 30 menit, karena ia lupa meletakan mobilnya. Pun, setelah mobilnya ditemukan, ia harus parkir mobil lagi, karena card parkingnya tak cukup. Ia harus top up, atau dikenal dengan isi ulang.
Dan kemudian, perjalanan kami lanjutkan kembali.
Kami banyak bicara tentang keluarga, musik di Malaysia, dan juga cerita-cerita lainnya. Termasuk rencana perjalanan esok hari ke Melaka.
"Kenapa kamu tidak ikut saya saja ke Melaka?" Tanyaku spontan.
"Mmmm...kenapa tidak, besok saya tidak punya rencana apa pun",
"Bagus, jadi ada orang yang akan foto saya". Kami pun tertawa bersama.
"Saya hantar kamu ke hotel. Kamu bersih-bersih. Nanti jam 7 malam, saya jemput kamu. Saya ajak kamu makan malam bersama keluarga saya", ucapnya.
Aku yang sedari tadi menikmati lengangnya lalu lintas Singapura, kaget dengan tawarannya itu.
"What? Kamu yakin ajak saya makan malam? Are you seriuse?", tanyaku memastikan.
"Ya, pastilah yakin. Ini saya coba sms keluarga saya, agar disiapkan makan malam. Kami biasa makan malam jam 8".
Aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar. "Oke, jawab sejujurnya pertanyaan saya. Kenapa kamu ajak saya ikut mobil kamu?", tanyaku sambil menggeser posisi dudukku menghadapnya.
"Kenapa nggak. Bukan karena saya searah pulang, dan bukan karena hotel tempat kamu menginap dekat dengan rumah saya. Tapi, karena saya ingin saja".
Aku diam. "Sepi, boleh dengar radio?", tanya ku memecah kesunyian. Asril kemudian menyalakan radio. Sementara perlahan hujan mulai turun. Sempurna. Hujan. "Motor-motor itu adalah milik warga Malaysia. Mereka pulang pergi bekerja di Singapura. Kamu bisa lihat platnya. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai buruh di pabrik."
"Dan mereka harus tiap hari lewati perbatasan?"
"Yes,"
"Berapa lama lagi kita tiba di perbatasan?" Tanyaku kemudian.
"Beberapa menit lagi," jawabnya
Hujan kian deras di luar. Pengendara motor banyak yang menepi untuk memakai jas hujan. Sementara langit beranjak gelap.
18:15 kami tiba di perbatasan. Tampak antrian motor mengular di tengah lebatnya hujan. Sementara antrian mobil tampak sepi. "Kalau akhir pekan, bisa 1 jam mengurus imigrasi. Dan kalau kamu naik bus, coba lihat di sisi kanan kamu. Mereka yang naik bus, harus turun dengan membawa tas mereka. Bus akan menunggu di luar perbatasan. Jika mereka lama proses imigrasinya, maka bus akan meninggalkan mereka. Dan mereka akan melanjutkan perjalanan dengan bus selanjutnya." Jelasnya. "Tapi, saya justru ingin lakukan itu. Itu pengalaman untuk saya,"
"Baiklah, jika kamu ke Singapura suatu hari nanti, kamu telpon saya. Saya akan jemput kamu. Tapi, saya tidak akan bawa mobil. Saya naik bus. Dan kita bersama-sama lakukan seperti yang mereka lakukan saat ini", ucapnya.
"Setuju!"
Yah, terus terang, bertemu dengan Asril, semuanya jadi mudah untukku. Terutama saat proses imigrasi.
Perjalanan di hari pertama ini punya cerita tersendiri. Bertemu orang asing yang menawarkan begitu banyak kebaikan untuk aku yang baru dikenalnya. Dia keajaiban dalam perjalanan ini.

Met A Guardian Angel

Kurang lebih sepuluh menit, kasak kusuk mencari jalan keluar, akhirnya ku temukan, tangga ke atas yang benar-benar jelas mengantarku menghirup udara bebas. Lebay? Terserah lah, menganggapnya seperti apa, yang jelas, amat sangat tidak nyaman, berada di ruangan yang baru kita tahu, dan kemudian sukses tersesat.
Turun di Stasiun MRT Bugis, berarti berada di Bugis Junction dan terdapat jalur langsung ke pusat belanja. Yup yup yup, aku telah menyadarinya. Peta memang memberikan penjelasan yang sungguh teramat jelas. Namun tetap saja saat berada di medan sesungguhnya, gagap. Telat berpikir untuk membekali diri dengan kompas. Yes, kompas. Next trip, kompas adalah hal yang paling penting, dibandingkan ganti celana dalam tiap hari.
Sudahlah, tujuan ku selanjutnya adalah Merlion. Jangan tanya lokasi dan bagaimana aku mencapai lokasi favorit para turis ini. Pelayan restoran mengatakan, "tiga kali perempatan arah selatan. Kemudian, ada gedung besar belok kiri, telusuri jalan itu". Baik sekali pelayan itu mengarahkanku, sampai harus keluar restoran. Tangannya pun merasa perlu memberi aba-aba dan pengarahan. Berkali-kali pula meyakinkanku, apakah aku paham dengan penjelesannya.