Jujur, kecewa saat tahu, perjalanan jauh ke Bunguis tidak mendapatkan
gulai kakap. Gulai jengkol pun tetap membuatku bergeming. Tidak tergoda.
Mati rasa. Makan pun hanya sekedarnya. Mungkin, memang perjalanan ini
tidak memberkatiku untuk mencicipi makanan khas masing-masing daerah.
Apapun itu, lewat. Padahal, sejak pagi tadi, perutku belum pula ku isi
nasi, kecuali sate padang di lapangan Imam Bonjol siang tadi.
Jam 5,
mengejar waktu ke Padang Pariaman. Tawaran berikutnya adalah mengunjungi
situs Syekh Burhanudin, entah apalah itu. Blind Traveler, aku ikut aja.
Estimasi waktu 1 jam tiba di lokasi. Dengan kondisi jalan track lurus,
maka akan jauh lebih cepat. Itu asumsiku saja. Ternyata, jalan yang ku
lewati adalah berbalik 180 derajat. Truk besar,
kontainer, saling salip. Diriku rasanya kecil banget di antara antrian
di jalan. Pasrah. Namun, rasa ingin tahuku dan jiwa petualangku
mengalahkan ketakutan dan resiko yang aku hadapi.
