Showing posts with label Travel Mate. Show all posts
Showing posts with label Travel Mate. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Misi tak Selesai ke Karst Maros

Karst Maros dari Sisi Luar. Photo: AD
Sepi. 
Hanya kami berdua, Aku dan Azlam dalam perjalanan kami selanjutnya. Ingat ucapan Daeng, untuk keluar dari Desa Berua hanya ada dua jalan, kembali menggunakan sampan, atau berjalan kaki hingga menemukan jalan beraspal. Jika kembali dengan sampan, maka aku jelas mendapatkan kenyamanan, karena hanya duduk dengan membayar sejumlah rupiah. Tapi, sampan yang membawa kami dari Desa ini ke dermaga pun harus menjadi pekerjaan rumah, lantaran harus memiliki nomer telepon genggam si pemilik sampan.
Namun, yang jelas aku tidak memilih jalan termudah dan ternyaman ini, aku memilih treking. Mulai dari keluar Desa Berua, sampai ke Kawasan Karst Maros. Melelahkan pastinya. Azlam mengatakan, jalur treknya cukup bersahabat, dan tidak ada resiko apapun, asal hati-hati.

Saturday, June 30, 2012

Calo Hajar Aswad

Hari keempat di Mekah, berarti ini hari ke enam aku berada di Arab Saudi, perjalanan besar aku di tengah tahun 2012.
Sejak aku di beri dukungan spiritual seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Yordania, aku perlahan mulai membiasakan diri kalau aku saat ini memang berada di Masjidil Haram. Padahal, sejak hari pertama injakan kaki di Masjidil Haram, aku merasa 'aneh' berada di sini. Tiba jelang tengah malam pun, aku bergeming di depan Ka'bah. Setengah alam sadarku tidak meyakini kalau aku akhirnya bisa menatap langsung Ka'bah, meski masih malu-malu.

Friday, June 8, 2012

Cium Kening Emak


Masih jelas diingatan usai berbuka puasa tahun lalu, aku mengatakan, "Mudah-mudahan sebelum lebaran tahun besok kita umroh ya, Mak", ucapku. Emakku pun mengamini. Kala itu entah mengapa aku begitu yakin untuk bisa berangkat. Padahal tabunganku pun tak yakin pula untuk terkumpul. Namun, lagi-lagi, aku merasa berkeyakinan untuk pergi bersama emak ku.
Meski tidak pula gratis, antrian karyawan yang ingin ke tanah suci pun terus memanjang. Mungkin ini satu jalan keluar dari banyak jalan yang aku dapati. Selebihnya, cuma bisa pasrah. Tak memaksa target. Jika memang akan berangkat, maka Insya Allah pasti berangkat.
Dan tiap kali, mengingat janji itu lagi di hari dan bulan berikutnya, yang ada hanya ketidakpercayaan diri aku yang mempertanyakan niatku, 'Bisa?'
Tapi, kekonyolan apalagi saat aku berucap, "aku nggak mau jalan-jalan ke luar negeri sebelum umroh". Itu aku ucapkan jelang traveling di Vietnam berakhir, per Agustus 2011.
Rrrrrrrrgh
Erk, masa konyol sih berucap gitu? Katakan tidak ahahahahah
Memang ada beberapa jadwal traveling di tahun 2012, dengan one way ticket. Tapi, aku sudah berhitung-hitungan dengan jatah cuti. Ahahahahahaah teuteup, ga mau rugi. Plus itung-itungan tabungan. Saldo? Wkwkwkwkwk hanya Allah dan aku yang tahu.
Dan rejeki itu datang saat, aku dipastikan berangkat per 17 juni 2012. Alhamdulillah. Dan nikmat utama saat itu adalah melihat wajah emak. Sumringah. Cerah. Aku sendiri merasakan perasaan yang nano-nano. Kalau memang ini jalannya, maka ada baiknya untuk disegerakan. Beruntung aku memiliki keluarga yang mendukung untuk beri pengalaman spiritual bagi emak.
Cukup tiga minggu pekerjaan mengurus kelengkapan administrasi. Dan semua doa itu terjawab, pada sabtu tengah malam.
Selebihnya, cuma aku, Emak, dan Allah yang tahu. *peace