Monday, December 10, 2012

Percaya Diri atau Kepedean?

Sedang berada di sebuah kedai kopi di pusat perbelanjaan di pusat Jakarta. Interior retro dengan terdengar sayup-sayup musik mana suka.
Tidak ada masalah sebenarnya aku berada di sini. Mencoba selalu nyaman dengan keberadaanku sendiri. Iya, benar, banyak orang yang telah duduk jauh lama dariku. Buktinya? Minuman tinggal setengah. Contoh mudah, tanpa perlu tendensi apapun.
Tapi, sayangnya, yang perlu ku cermati adalah bagian ini adalah bagian bebas asap rokok, tapi entah kenapa wanita sejurus didepanku, justru asik mengapit sebatang rokok di antara dua jemarinya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan asap rokok dan merapihkan rambutnya.
Ugh, entah berapa mahal perawatan rambutnya jika kemudian, rambutnya harus kena asap rokok.
Ya sudahlah, saat ia asik dengan sendirinya, maka aku pun asik dengan kesendirianku saat ini. Salah aku rasanya pilih kursi yang justru membiarkan wajahku jadi konsumsi publik. Seberapa terkenalnya aku? Tidak, aku tidak lah siapa-siapa. Dan sejurus kemudian, aku biarkan seluruh ruangan, bau, ku biarkan akrab dengan ku.
Pernah merasa sendiri di saat ramai seperti ini? Jika dirimu nyaman dengan yang kita miliki, maka, alam pun enggan mengaciuhkan kita.
Intinya, kita tidak pernah tahu siapa yang ada di samping tempat duduk kita, maka kita pun harus mengenalnya. Maka, maukah kita melakukan itu? Berkenalan?
Aku sih terbiasa sendiri menikmati suasana apapun yang ada. Caranya? Semua orang punya masalah, kebahagiaan. Maka aku pikir, dengan cara itulah, mereka, dan aku, bisa menikmati kesendirian di sebuah tempat. Bukan hal absurd. Tapi, kini, aku tengah bercengkrama dengan hati. Seberapa kuat aku beradaptasi dengan apapun. Jika aku kalah, dan membiarkan itu terjadi, maka terjerembablah aku dalam ketidak percaya dirian. Itu kuncinya, percaya diri.

No comments:

Post a Comment