Sunday, December 16, 2012

Menikmati Hening Rante Karassik dan Buntu Pune

Rante Karassik. AD
Rantepao pagi, teramat tenang. Ibarat kota persinggahan, maka akan ada semacam alun-alun, pusat kota yang juga tidak terlalu besar, arus lalulintas yang cukup senyap, dan dingin yang masih menusuk. Padahal pagi sudah berada di pukul 7. Mungkin, sisa hujan semalam masih sisakan hawa dingin. Tapi, lumayanlah kalau hujan sudah turun, semoga saja seharian ini cuaca bersahabat dan ramah.
Yup, terkait dengan keramahan Toraja, pun ramah dengan penunjuk arah. Pagi ini, rute kembali ke arah Makale. Maka dari Rantepao, akan ada Rante Karassik, Buntu Pune, Kete Kesu, Londa, Talinga, Lemo, dan Karimba. Sementara lainnya adalah situs permakaman, hanya Talinga berupa situs pemandian.
Simple aja sih, asal cermat maka penunjuk arah menuju situs wisata makam akan mudah didapat. Karena tidak berapa lama tekan gas, aku pun sudah tiba di belokan pertama menuju Rante Karassik.

Rante Karassik. AD
Rante Karassik ini adalah situs berupa tanah lapang berumput dengan sejumlah batu batu yang tertancap di tanah. Tak banyak batu asal megalitikum di lokasi ini. Itu pun tersebar tak merata. Tak banyak informasi yang di dapat dari lokasi pertama ini.
Tak lama singgah, aku pun segera kembali ke Jalan Poros Makale - Rantepao arah Makale untuk ke tujuan selanjutnya. Sekali belokan ke kiri, maka akan ada dua situs yang bisa dikunjungi - Buntu Pune dan Kete Kesu. Letak keduanya tidak berjauhan, sih.
Dan belum lama tiba di Bunte Pune, sekawanan ekor anjing sudah menghampiri mobilku sambil menggonggong. Oke deh - kecut seketika, nggak berani keluar mobil, pun Pak Ilham. Namun tidak berapa lama seorang perempuan muda keluar dari antara rumah rumah adat di Buntu Pune, menghalau kawanan anjing pergi. Saat suasana aman, aku pun lega keluar dari mobil. Perempuan muda itu belakangan ku tahu namanya Mara. Senyumnya enak dilihat, ramah banget. Ini enaknya kalau pergian seorang diri, selalu saja bertemu dengan orang-orang ramah dan baik hati. Dan bertemu warga lokal adalah sebuah keberuntungan. Karena dari mereka lah, kita bisa mendapat informasi langsung. Seperti yang Mara lakukan.
Buntu Pune. AD
Buntu Pune. AD
Aku dipersilakan duduk di salah satu rumah. Ia jelaskan banyak hal tentang Buntu Pune, dan perannya Mara di lokasi ini. Ku pikir ia memang pemandu wisata dan juga penanggung jawab di Buntu Pune. Dan, ia kemudian mempersilahkanku untuk berkeliling di lokasi ini, bila perlu ia bisa dipanggil di kantornya. See, ramah, kan? "Saya tak lama di lokasi ini, karena harus mengejar lokasi wisata lainnya. Hanya satu hari di Rantepao", ujarku. Ia mengiyakan dan kemudian memberiku saran untuk naik ke Panorama. Ke Panorama, oke, berarti harus menaiki sejumlah anak tangga. Pekerjaan Rumah.
Tapi, Mara bilang, dari Panorama bisa melihat alam Rantepao langsung dari atas. Jika, itu adalah hadiah dari tapaki anak tangga, boleh juga lah.
Mara beri salam perpisahan, dan aku pun ucap terima kasih untuk keramahatamahannya. Aku berlalu setelah sebelumnya menulis buku tamu.
Buntu Pune. AD
Buntu Pune ini adalah permukiman yang dibangun tahun 1800-an dan terdapat beberapa lumbung dan tongkonan. Dan sampai sekarang masih terpelihara dengan baik, juga termasuk salah satu situs peninggalan sejarah dan keperbukalaan. Tapi, karena letaknya agak tersembunyi, jadi agak sepi dan jarang dikunjungi. Kalau tidak memperhatikan papan penunjuk jalan, mungkin sudah terlewat ke arah Kete' Kesu. Dari Buntu Pune ke Kete' Kesu, jaraknya hanya 3 kilometer.
Buntu Pune. AD
Dan, atas saran Mara, maka aku tiba di Panorama. Dan Mara benarkan janjinya, kalau dari Panorama inilah, aku bisa liat kota Rantepao dari ketinggian.
Usai beramah tamah dengan Mara, aku pun beramah tamah dengan traveller dari Jakarta. Tertawa lepas lah aku. Berteriak tertahan. Senang? Iyalah. Dua traveller asal Jakarta ini, sudah cukup lama di atas Panorama. Dan keduanya, shubuh tadi tiba di Rantepao, menyewa motor, dan kemudian langsung menyusuri Rantepao. Gokil.
Kami pun bersepakat untuk seharian bersama. Aku sarankan untuk bersama dengan mobilku, tapi mereka lebih memilih dengan motor. Oke, itu telah menjadi pilihan mereka. Seperti yang sudah-sudah, ini yang aku sebut dengan accidental friend - teman yang bertemu tanpa disengaja, tapi satu tujuan. Next

No comments:

Post a Comment