Tuesday, December 18, 2012

Ketika Pemakaman Jadi Bagian Penting Adat

Tau tau di Londa. AD
Dalam masyarakat Tana Toraja, upacara pemakaman adalah ritual adat yang terpenting, juga berbiaya mahal. Karena semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya pun kian mahal. Upacara pemakaman akan dihadiri ribuan orang, bahkan berlangsung selama beberapa hari. Fakta itu yang ku dapat dari obrolan singkat dengan warga lokal di Londa. Salah satu situs pemakaman di Toraja yang menjadi destinasi ku selanjutnya.
Di Tana Toraja, ada tiga cara pemakaman; peti mati disimpan di dalam gua, di makamkan di batu berukir, atau digantung di tebing. Dan di Londa, tempat dimana aku berdiri saat ini, adalah cara pemakaman dengan digantung di tebing.
Untuk mencapai lokasi goa makam Londa, aku harus menyusuri jalan setapak. Jalannya menurun dan kemudian rata, dengan sisi kiri sungai kecil, sementara sisi kanan adalah persawahan. Suasananya senada - sepi dan senyap. Hanya ada beberapa turis lokal yang saat itu ada di lokasi ini. Meski begitu, juga tak menghilangkan rasa takut. Yah, beneran senyap.

Dan memang lokasi tebing yang dijadikan pemakaman tidak jauh dari pintu masuk. Sebentar kemudian, deretan patung kayu atau warga lokal menyebutnya dengan tau tau sudah tampak. Tau-Tau adalah kayu yang dipahat semirip mungkin dengan jenazah yang dikubur. Biasanya kayu yang dipilih adalah kayu nangka yang cenderung berwarna kuning. Beberapa tau-tau dibuat dengan detail garis kerut wajah.
Suasana dalam goa Londa. AD
Nah, tau-tau biasanya diletakkan di gua serta menghadap ke luar. Sementara peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali disisi tebing. Cukup jelas rasanya informasinya yang disampaikan local guide di Londa. Itu baru tampak luar Londa, karena aku kemudian diajak untuk masuk ke dalam gua. Baiklah.
Guide ku berjanji akan menunjukan peti mati yang baru dimasukan beberapa minggu lalu. Untuknya bisa jadi hal yang biasa untuk dijelaskan, tapi untukku? Aku?
Berbekal lampu petromak yang aku sewa dari warga lokal, aku dibimbing masuk ke dalam goa. Yeah, rite. Basah, lembab, dengan tetesan air yang merembes dari sela sela batu di atasnya. Kira-kira sepuluh meter masuk ke dalam dengan cara membungkuk, aku pilih untuk selesaikan ziarah kubur ini.
Pintu masuk goa Londa. AD
Oh, ya, kalau memang ke Londa seorang diri, baiknya memang minta bantuan local guide di lokasi. Mereka tidak menentukan tarif, kok. Sepantasnya saja diberi imbalan uang - dapat teman, dapat ilmu, dan pengusir sepi.
Bukit Londa. AD
Jadi, tidak sampai satu jam aku dah selesaikan destinasiku di Londa, dengan duduk di sebuah gazebo yang menghadap tebing. Ia mengatakan, jika goa di bawah sudah disesaki dengan peti mati, maka cara yang ditempuh untuk memakamkan adalah mencari goa-goa yang dibentuk secara alami di bagian bukit lainnya. Dan tak jarang, proses pemasukan peti perlu perjuangan berat dan berhari-hari. Bergelantungan - ibarat melakukan panjat tebing. Tapi, memang itulah yang dilakukan masyarakat lokal untuk menghormati leluhur dan budayanya. Next

No comments:

Post a Comment