Tripod seperti biasa aku panggul - yah, tripod ini memang satu-satunya teman setia di setiap perjalanan. Itu saja. Selain tentunya nyali dan modal kepedean berada di kampung orang. Ngeri? Ya pasti. Rasa itu memang kerap menghantuiku, kok. Tapi, selesai dengan mengucap, 'Ya, sudahlah!.
Tiket sudah ku beli, dan ku berangsur memasuki kawasan wisata Kete Kesu. Ada satu titik lokasi di kawasan ini yang menjadi 'wajib'nya foto. Harus foto di situ? We'll see, karena tetiba kian maju langkahku, kian terdengar pura komunikasi dari bahasa yang aku kenal. Ahaaaa, Perancis.
Sebagai tempat wisata, Kete Kesu cukup lengkap. Kete Kesu sendiri dalam bahasa lokal berarti pusat kegiatan. Jadi, pas lah, dengan nama itu dan dengan apa yang didapat di lokasi ini. Karena, di kawasan ini terdapat kehidupan warga tradisional Toraja. Dilengkapi dengan lumbung padi, arena upacara pemakaman, dan tempat pertemuan adat. Orang-orang sendiri menyebut Kete Kesu sebagai 'Traditional Village Megalith' atau Desa Era Megalitikum.
Kalau sudah berada di sini, susuri jalan setapa dari pintu masuk tadi, menuju area permakaman yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun. Kampung Kete Kesu sendiri diperkirakan telah berusia 400 tahun. Waktu yang tepat datang ke Kete Kesu memang di Novembe hingga akhir Desember, saat berlangsungnya Pesta Kematian, umum disebut dengan Pesta Adat Rambu Solo.
Salut dengan keduanya yang memiliki kemahiran mumpuni di industri wisata ini. Apalagi Toraja dikenal banyak turis mancanegara. Jadi, modal bahasa memang jadi faktor penting untuk bisa bertahan di industri ini. Inggris saja tidak cukup. Keduanya belakangan ku ketahui dapat pembekalan dari pemerintah lokal dan provinsi. Saat itu juga ada dari pihak kedutaan yang datang memberi pembekalan bahasa. Ini keren. Dan sekeran aku saat itu yang lagi lagi punya teman baru. Suka! Next
No comments:
Post a Comment