Friday, June 8, 2012

Cium Kening Emak


Masih jelas diingatan usai berbuka puasa tahun lalu, aku mengatakan, "Mudah-mudahan sebelum lebaran tahun besok kita umroh ya, Mak", ucapku. Emakku pun mengamini. Kala itu entah mengapa aku begitu yakin untuk bisa berangkat. Padahal tabunganku pun tak yakin pula untuk terkumpul. Namun, lagi-lagi, aku merasa berkeyakinan untuk pergi bersama emak ku.
Meski tidak pula gratis, antrian karyawan yang ingin ke tanah suci pun terus memanjang. Mungkin ini satu jalan keluar dari banyak jalan yang aku dapati. Selebihnya, cuma bisa pasrah. Tak memaksa target. Jika memang akan berangkat, maka Insya Allah pasti berangkat.
Dan tiap kali, mengingat janji itu lagi di hari dan bulan berikutnya, yang ada hanya ketidakpercayaan diri aku yang mempertanyakan niatku, 'Bisa?'
Tapi, kekonyolan apalagi saat aku berucap, "aku nggak mau jalan-jalan ke luar negeri sebelum umroh". Itu aku ucapkan jelang traveling di Vietnam berakhir, per Agustus 2011.
Rrrrrrrrgh
Erk, masa konyol sih berucap gitu? Katakan tidak ahahahahah
Memang ada beberapa jadwal traveling di tahun 2012, dengan one way ticket. Tapi, aku sudah berhitung-hitungan dengan jatah cuti. Ahahahahahaah teuteup, ga mau rugi. Plus itung-itungan tabungan. Saldo? Wkwkwkwkwk hanya Allah dan aku yang tahu.
Dan rejeki itu datang saat, aku dipastikan berangkat per 17 juni 2012. Alhamdulillah. Dan nikmat utama saat itu adalah melihat wajah emak. Sumringah. Cerah. Aku sendiri merasakan perasaan yang nano-nano. Kalau memang ini jalannya, maka ada baiknya untuk disegerakan. Beruntung aku memiliki keluarga yang mendukung untuk beri pengalaman spiritual bagi emak.
Cukup tiga minggu pekerjaan mengurus kelengkapan administrasi. Dan semua doa itu terjawab, pada sabtu tengah malam.
Selebihnya, cuma aku, Emak, dan Allah yang tahu. *peace



Friday, May 18, 2012

Baju Bekas Perjalanan

Sejak punya hobi travelling satu tahun terakhir, aku pun punya kebiasaan baru, yaitu berburu baju bekas. Alasan utama bukan karena aku kekurangan baju, tapi, lebih karena sisi kepraktisan. Tas ransel yang ku miliki sejak 4 tahun lalu tidak memiliki banyak ruang. Awalnya aku maklum, jika kondisi tas akan terasa berat saat berangkat. Dan jika usai perjalanan, aku mau isi tas berkurang. Dan baju-baju bekas itu lah yang aku akhirnya buang, agar ruang di tas ku berkurang. Dengan demikian, juga berkurang beratnya. Apakah kemudian aku akan kembali penuhi dengan oleh-oleh? Nop. Don't push your luck.

Sunday, April 15, 2012

Terjerembab, Terperosok, Terpelanting (Antalogy Jakarta)

04:30 Alarm berbunyi. Setengah bergeliat, dan setengah bernyawa, aku kemudian jejakan kaki ke lantai dan menuju kamar mandi, bersiap untuk ke kantor. Setengah hati ku lakukan ini, karena  selalu saja aku berpikir kalau terlalu dini memulai hari. Padahal rutinitas ini telah aku jalani sejak 4 bulan terakhir. Dan selama waktu itu pula, jalan pikiranku belum berubah. Membandel.
Ritual selanjutnya adalah memanaskan mesin motor. Menyiapkan helm, kacamata, penutup hidung, sarung tangan, dan jaket. Dan tidak berapa lama, aku pun telah berada di jalan raya.
Aku melepaskan pandangan ke pengendara motor yang perlahan menyesak di lampu merah. Dan kemudian aku berhenti mengutuk diri. Dengan setengah berteriak, "Hey, aku tidak sendiri".
Cukup banyak pula warga Jakarta yang telah memulai hari terlalu dini. Padahal dingin masih menggigit. Apalagi saat motor melaju dengan cepat, maka kecepatan angin yang diterimanya berbanding lurus dengan dinginnya angin yang diterima.
Lalu lintas pagi itu menyenangkan, terutama padat lalu lintas yang jarang ditemui. Lengang, bahkan bisa dikatakan teramat sepi. Setidaknya begitulah pengamatanku selama ini.  Motor ku pun bisa ku pacu hingga 60 KM/ Jam.