Sunday, March 8, 2015

Mencari Sunrise Hingga ke Punthuk Setumbu

Meski fajar belum muncul, namun warga Desa Karangrejo sudah beraktivitas.
Aku melihat ada dua warga dengan jaket tebal dan topi kupluk berjaga di depan mulut jalan.
Salah satu dari mereka memberikan isyarat agar kami masuk ke jalan yang lebih kecil dengan lampu senternya.
Dari jalan yang dapat dilalui dua mobil, kami masuk ke jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil. Kini, jika seorang warga memegang lampu senter, seorang warga lagi memegang handy talkie. Samar kudengar mengatakan ada mobil masuk kepada seorang warga lainnya di ujung jalan.
Dari mulut jalan itu, kami menyusuri jalan sekira 100 meter.
Dan jam 04:45 WIB, kami - aku, ibu, dan keponakan serta sopir - akhirnya tiba di gerbang masuk Punthuk Setumbu.
Sudah cukup ramai.
Sejumlah mobil sudah parkir.
Beberapa pengunjung pun sudah antri membeli tiket masuk - 15 ribu rupiah untuk wisatawan lokal, 30 ribu rupiah untuk wisatawan asing.
Dari gerbang masuk, kami harus berjalan sekira 300 meter untuk menuju pelataran Punthuk Setumbu untuk melihat pemandangan matahari terbit yang berbeda. Begitu slogan yang kubaca pada papan petunjuk dekat loket tiket.

Friday, January 30, 2015

Tonle Sap Lake: Wisata Kampung Terapung di Siem Reap

Penjual Sayur Keliling - RB
"Selamat datang di Tonle Sap Lake"
Begitu tulisan yang terpampang di pintu masuk salah satu lokasi ekowisata di Siem Reap. Bagi yang melakukan perjalanan seorang diri, maka satu satunya cara mencapai lokasi ini adalah dengan naik Remork atau Tuk Tuk. Tonle Sap Lake atau Danau Tonle Sap ini sendiri berjarak sekira 20 km dari pusat kota atau 25 menit perjalanan. Wisatawan biasanya berada di danau ini untuk mengunjungi kampung terapung.
Jika ingin melakukan tur keliling Danau, wisatawan harus membeli tiket seharga 25 dolar per orang. Tiket ini tersedia di loket masuk pelabuhan.
Aku beruntung berkunjung ke Danau Tonle Sap dengan ditemani warga lokal yang ku kenal di perkampungan muslim Stengmai. Ia juga yang mengantarku ke danau ini dengan motor miliknya. Sehingga aku tidak perlu membayar penuh untuk berdua, sudah termasuk harga sewa perahu.

Thursday, January 29, 2015

Eksotiknya Candi Ta Prohm

Jika dibandingkan dengan Angkor Wat, Bayon Wat, dan candi lainnya yang berada di Kompleks Angkor Archeological Park, maka Ta Prohm bisa dikatakan candi yang unik. Untuk masuk ke kawasan Ta Prohm saja pengunjung harus berjalan sekira 400 meter.
Di tengah perjalanan, ada sekelompok pemain musik yang memainkan beberapa alat musik tradisional. Beberapa di antaranya ternyata menjadi korban ranjau pada masa perang saudara.
Jalan menuju pintu utama ini pada sisi kanan kirinya tumbuh rimbunan pohon. Rimbunan pohon itu pula yang membuat kawasan candi ini amat rindang. Kesan suram pada candi akibat lumut yang membalut pada hampir semua bagian candi. Dan runtuhan bangunan candi seakan menggenapi kesuraman Ta Prohm.
Selain itu, kesan eksotik langsung melekat meskipun pengunjung hanya disajikan reruntuhan candi di beberapa bagiannya. Apalagi tampak akar pohon membelit pada beberapa bagian candi lainnya.