Saturday, May 25, 2013

Sawahlunto: Kota ini Menyenangkan

Pagi pertama di Sawahlunto.
Aku segera beringsut dari tempat tidur.
Cek batere untuk persiapan tempur keliling Sawahlunto hari ini, Sabtu, 25 Mei 2013.
Full charge.
Ku buka pintu kamar.
Bukan.....bukan pintu kamar itu, tapi pintu kamar menuju balkon.
Yup, kamarku untuk 3 hari dan 2 malam di Hotel Ombilin ini memiliki balkon yang langsung menghadap jalan. Menyapu pandangan ke sisi kanan, yang ku lihat adalah Gedung Koperasi yang kini beralih fungsi menjadi mini market. Agak jauh jarak pandanganku, tampak warga tengah asik menyantap sarapan yang dijual pedagang. Sementara sisi kiriku adalah Gereja St. Barbara. Dari lokasi ku berdiri memang indah tampaknya. Apalagi jalan kota tampak masih basah karena hujan semalam. Hembusan angin pun kian terasa segar. Namun, tak sesegar niatku yang kemudian urung untuk foto Gedung Koperasi Ombilin ataupun Gereja St. Barbara. Keindahan arsitektur gaya Belanda itu pupus - rusak karena kabel listrik yang melintang dengan angkuhnya. Dilema.

Well, Hotel Ombilin adalah satu dari dua hotel yang ada di Sawahlunto. Jika Hotel Ombilin berlokasi di pusat kota, maka Hotel Parai City berlokasi tidak jauh dari akses masuk kota. Hotel Ombilin sendiri dibangun tahun 1918. Namun, pada era tahun 1945 - 1949 pernah difungsikan sebagai asrama tentara Belanda.
Sawahlunto memiliki dua hotel, namun tidak perlu khawatir menemukan kesulitan mendapat akomodasi jika berlibur di Sawahlunto. Sebab, Sawahlunto memiliki 53 homestay dengan kapasitas 116 kamar. Meski dikelola perorangan (baca: warga lokal), namun semuanya masuk dalam Asosiasi Homestay Sawahlunto yang secara berkesinambungan terus dikembangkan. Termasuk dipromosikan via internet.
Yang perlu diketahui, bahwa homestay di Sawahlunto memiliki jaringan dengan homestay di dalam dan di luar negeri. Maka tidak heran kalau Sawahlunto menjadi tuan rumah dalam International Homestay Promotional Fair 2013 pada bulan Juni. Sebagai catatan, tarif homestay di Sawahlunto berkisar antara Rp. 150 ribu - Rp. 200 ribu.
Kalau ingin merasakan keseharian warga lokal, homestay bisa menjadi pilihan utama.
Next, jika ke Sawahlunto aku akan coba tinggal di homestay. Tapi, untuk saat ini aku coba merasakan keramahan warga lokal dengan berjalan menyusuri jalan di kota ini yang sepi dan senyap.
Ya, sepi dan senyap.
Kesan itu yang kutangkap setelah beberapa puluh meter keluar dari hotel. Tidak banyak mobil atau angkutan umum yang lewat, bahkan motor sekalipun. Sempat terpikir, apa aku yang terlalu pagi memulai hari, atau memang ini adalah warna umum kota. Sebagai traveler jarang kudapati suasana kota seperti ini dan aku menyukainya.
Bahkan aku tidak henti-hentinya berpikir bagaimana kota ini dibangun dengan detail peletakan fungsi bangunan dan tata letak sarana dan prasarana kota. Mirip sebuah miniatur kota. Lalu lintas nya pun direkayasa sedemikian rupa, tanpa perlu keberadaan lampu lalu lintas. Bangunan lama jaman Belanda pun mendominasi kota dengan trotoir yang ramah dengan pejalan kali. Semua menyatu menjadi satu warna aku. Betah.
Dan mengusir kesan sombong, aku pun kerap melempar senyum ke setiap warga lokal yang berpapasan denganku. Ah, ini beneran menyenangkan.
Tapi, entah apakah Lubang Mbah Suro menjadi destinasi perjalananku yang menyenangkan di Sawahlunto. Mengingat lokasi itu menjadi bagian sejarah kota Sawahlunto menjadi Kota Tambang dan nasib penambang yang dikenal dengan Orang Rantai. 

No comments:

Post a Comment