
Namun, bukan tanpa resiko jika ku merubah rute perjalanan. Satu, aku tidak mempersiapkan penginapan di Mangunan, dan daya batereku menipis. Padahal, itu ku butuhkan agar GPS ku tetap aktif membawaku ke Mangunan. Dan penginapan? Untungnya aku mengenal Wahyu - seorang warga lokal yang ku kenal via blog. Aku belum pernah bertatap muka tapi aku meyakini ia akan membantuku mencarikan penginapan - sekelas homestay.
Awalnya Wahyu akan menemaniku saat berada di Mangunan, namun mendadak ia ada acara yang tidak bisa ditinggal. Tapi, dari segala perubahan yang mendadak itu, toh, positifnya, aku bisa berkesempatan melihat matahari terbit dari puncak Kebun Buah Mangunan. Jadilah, jam 4 sore, motor yang ku tunggai melesat menuju Mangunan.

Dan di daerah yang entah berantah tanpa aku ketahui, aku lanjutkan perjalananku hingga kemudian telepon genggamku mati di saat aku memasuki Puncak Becici.
Sinar matahari sudah minim. Jalan beraspal tampak basah,berkesan lembab. Sedikit kendaraan yang melintas. Ini perjalanan bermotor yang seru menurutku. Apalagi aku tidak tahu jalur selanjutnya. Pikirku hanya satu, segera setelah tidak di permukiman terdekat aku langsung cari mushola untuk Ashar sembari mengisi daya batere.

"Ah, jadi ini hutan pinus itu?", tanyaku seorang diri.
Niatku sebenarnya ingin berhenti, istirahat sejenak. Tapi, waktu tidak memungkinkan. Sebelum gelap aku harus telah berada di homestay. Titik.
Dari pintu masuk Kawasan Hutan Pinus ke permukiman terdekat ternyata hanya dalam hitungan menit.
Aku tepikan motorku dekat sekumpulan pemuda lokal.

Yang kutanya menjawab dengan mengarahkanku ke lokasi yang menurutnya tidak terlalu jauh. Baguslah. Lebih bagus lagi aku telah tiba di Mangunan. Kali ini tidak perlu berteriak puas, cukup dengan senyum.
Tersenyum karena aku benar dalam mengambil keputusan untuk segera meninggalkan Sri Gethuk. Dengan begitu ke esokan paginya aku bisa melihat pemandangan pagi dari Kebon Buah Mangunan. Next
No comments:
Post a Comment