Thursday, October 15, 2015

Taman Sokaifat Bani Saedah di Madinah

Bagian dalam Taman Saqfah
Aku hanya perlu mencari tantangan tersendiri menjelajah kota ini. Bisikku dalam hati suatu ketika.
Bukan maksud menyombongkan diri, tapi aku perlu melepas penat. Terutama melepas penat dari rute rutin; kantor ke Masjid Nabawi dan sebaliknya.
Aku bukannya pula telah khatam rute datang dan pulang dari lingkaran Markaziyah Madinah ke kantor yang sekaligus tempat tinggalku - sekira berjarak 1 kilometer di luar Markaziyah. Tapi, setidaknya dengan tantangan baru menjelajah kota ini, maka aku tidak mudah terserang jenuh. Banyak hal memang yang bisa ku lihat, tapi aku tetap haus hal baru.

Saturday, September 26, 2015

Ada Soekarno di Padang Arafah

Sempat membayangkan cerita orang tua dulu, kalau Padang Arafah itu tandus, kering, dan panas. Tak ada pohon untuk berteduh. Kemudian membayangkan saat jemaah haji dahulu wukuf hanya berlindung pada tenda yang hanya dipasangan pada saat musim haji saja. Pasti panas.
Namun, ternyata Padang Arafah kini sudah menghijau.
Teduh, begitu kesanku saat mobil yang kutumpangi mulai masuk ke kawasan seluas 5,5 x 3,5 kilometer ini.
Di tengah terik matahari Padang Arafah ternyata banyak berjajar pohon - pohon perimbun. Pohon ini yang kemudian ku ketahui bernama Pohon Soekarno. Mengambil jalan memutar dan diajak berkeliling terlebih dahulu membawa keberuntungan bagiku. Dengan begitu, aku mendapat kesempatan lebih banyak melihat hijaunya Padang Arafah. Baik itu tiap sudut jalan, tepian jalan, atau di dalam area tenda jemaah haji juga tertanam Pohon Soekarno.
Iya, ada Soekarno di Padang Arafah.

Thursday, September 10, 2015

Asmaul Husna dalam Pameran Modern

Selamat datang di Pameran Asmaul Husna atau The Beautiful Names of Allah. Pameran yang berada di sisi kanan Masjid Nabawi ini menggelitik keinginantahuanku dengan apa yang ada di dalam pameran tersebut. Tentu saja aku tahu tentang apa itu The Beautiful Names of Allah, namun bagaimana penyelenggara pameran ini menyuguhkan dan menerjemahkan sehingga bisa menjadi sebuah bentuk pameran. Ini yang kemudian membuat langkahku kian cepat ke pintu masuk pameran.
Karena usai salat Ashar maka banyak jemaah yang juga ingin melihat pameran. Aku? seperti biasa dengan keasikan melihat - lihat sana sini dan mencari tahu tentang Madinah dengan caraku.
Masuk? Gratis. Ini yang penting.