"Good morning. How are you" "Hi, I'm good, thank you for asking me". "So where do you go?" "Yeah, this is the bus to Bukit Bendera" "Correct" "How long it takes?" "About 45 minutes" "Oke, thank you."Yeaaaaah pagiku dimulai dengan senyum dari sopir perempuan Rapid Penang. It was gold, folks.
Ramah bener, dan itu jadi booster perasaanku seharian ini. Setelah kemarin....
Siapapun
pasti akan senang dengan keramah tamahan, tak terkecuali jika keramahan
itu diberi oleh seorang sopir sekalipun. G, kalian harus tahu bagaimana
ekspresiku saat itu. Senyum, hanya sebuah senyuman, yang membuat satu
hari itu menyenangkan. Good sign.
Setelah membeli
karcis dengan tarif sesuai zona, aku kemudian mencari tempat duduk di
sisi belakang. Hanya ada satu penumpang cowok, dengan tas ransel, plus
kamera tergantung di lehernya, entah dari mana asalnya, deng. Aku pun
menghampirinya dan berkenalan.
Namanya Dang, asal Bangkok, sama
seperti aku, Dang juga #solotraveller. Dan kami sepakat untuk berteman
dan menjelajah Penang bersama-sama. Terbukti, aku memang teramat supel.
Wkwkwkwkwk
Bersama Dang, aku beruntung karena kini aku ada yang
fotoin, lol. No no no, bukan itu sih misinya, lebih karena aku ingin
punya random friend, sama seperti saat di Singapore, aku ketemu Asril.
Meski komunikasi antara kami
terkendala bahasa, tapi itu bukan berarti kami tidak bersenang-senang,
bahkan kami sudah klik. Kesepakatan kami adalah pertama ke Bukit
Bendera. Kemudian, ikut rute Dang. Setelah itu, Dang ikut rute aku.
Kalau di antara kami punya rekomendasi tempat yang bagus, maka kami akan
meluncur ke sana. Hebat, kan, kesepakatan yang kami buat. Btw, ini hari
terakhir Dang di Penang.
Teramat pagi memang kami ke Bukit Bendera, tapi nyatanya antrian sudah mengular. Widiiiiiiih
Bukannya segera berbaris, kami justru foto-foto di depan gerbang.
Gokil juga nih, bocah.
Dang tidak banyak bicara, tapi, banyak inisiatif. Beberapa angle foto yang ada, sebagian besar, Dang yang ambil.
Sesekali
ia juga menunjukkan kepadaku hasil bidikannya di kota sebelum akhirnya
ia singgah di Penang. Aku tahu dia profesional fotografer, tapi Dang
selalu menolak dengan julukan itu.
Tidak ada yang menyenangkan saat
mulai perjalanan pagi, selain melihat dengan kepala sendiri aktivitas
warga lokal di pasar. Kita mengenalnya dengan istilah pasar tumpah, dan
menuju Bukit Bendera, aktivitas warga lokal terlihat jelas, macet. Tapi,
seru. Kaca bus yang transparan, bersih tanpa noda, membuat aku sukses
mengabdikannya. Di bus sendiri, lebih banyak turis asing daripada warga
lokal sendiri. Jadinya, bus umum seperti bus pariwisata.
Sebenarnya
aku sudah keluarin uang lembaran 50 RM, tapi kasir meminta uang dengan
pecahan lebih kecil. Aku cuma mengernyit. Dang yang ada di belakangku,
lebih tak paham.
Selanjutnya aku hanya membeli ekspresi wajah yang
cukup senang, dengan senyum sumringah. Entah, karena muka ku melayu
banget atau nggak, tapi aku dapat potongan setengah harga untuk tiket
masuk. Rejeki lah yah. Mau bilang, juga, kok, jujur banget. Aku jelaskan
ke Dang kenapa aku tiba-tiba begitu senang. Setelah paham, dia pun
mengangguk. Dan nggak berniat untuk protes. Aku juga bisa baca pikiran
dia saat itu, "kenapa aku nggak dapat potongan harga??? "Aku cuma
menawarkan makan siang, aku yang akan traktir dia. Dan dia pun kemudian
tertawa. Telat.
sejurus kemudian, antrian teratur baris untuk naik ke
kereta yang didisain mengikuti kontur berbukit. Jadi, keretanya itu
berbentuk miring, tidak seperti kereta kebanyakan. Unik, bahkan tempat
duduknya pun, juga didisain khusus. Seru, seseru
saat masuk untuk mendapatkan posisi duduk yang nyaman. Karena,
pengalaman unik itu, tidak hanya saat berada di bukit, tapi juga proses
perjalanan menuju atas, atau pun saat meluncur kembali ke bawah.
Hanya ada dua
kereta, yang ke atas dan yang ke bawah. hanya ada rel tunggal, dan saat
dua kereta bertemu, maka, disetting pertemuan itu berada pada titik, di
mana ada rel ganda. Smart. Tegang sih, saat ke atas, apalagi saat ke
bawah, tepat berada di bagian depan kereta. Pokoknya nggak rugi jika
menempatkan Bukit Bendera ke dalam daftar wisata di Penang, apalagi
kalau kebetulan dapat potongan harga. LOL
Singkat kata, Bukit
Bendera, cukup menyenangkan la yah. Banyak yang bisa dilihat.
Pemandangan sih terutama, selebihnya, hanya ada tempat peribadatan.
Sayang, saat berada di lokasi tersebut, matahari sudah beranjak naik,
jadinya, saat ingin foto dengan latar belakang kota, hasilnya tidak
bagus. Backlight gitu sih istilahnya.
Sesuai kesepatakan dan janji aku ke Dang, aku traktir dia makan siang.
Selanjutnya,
Dang ingin mengunjungi Kuil kek Lok Si Temple. Mau bilang apa yah????
Kuil ini luar biasa banget lokasi dan disainnya. Aku cuma bisa say thanx
to Dang yang punya selera bagus dengan tempat-tempat oke. Beruntung
aku, punya random friend dengan selera awesome lah.
Dan memang, kami
pada akhirnya menetapi janji kami masing-masing saat pertama kali
bertemu. Aku nggak keberatan saat Dang punya usulan untuk pergi ke suatu
tempat, karena aku juga pastinya akan mengusulkan hal yang sama.
Ke
kuil itu sungguh juga menyenangkan. Daaaaan, setelah 5 jam bersama,
Dang, baru mengaku, kalau dia adalah insinyur, seraya memberikanku kartu
namanya. Hey, dude, terima kasih, sudah percaya.
Pertemanan aku dengan Dang, semakin seru, karena tidak hanya sama pada minat, tapi juga ke arah toleransi.
Kembali
ke downtown ke Jantung kota Penang. Kami menuju beberapa titik kota tua
di Penang, sesuai dengan instruksi pada peta wisata. Kebanyakan kuil
dan kuil. Hingga, waktu aku bilang ke Dang, kalau aku mau sholat dulu.
Dang bilang, kurang lebih begini,
"Lo sholat di mana" "Masjid Kapiten Keling, dekat dari sini. Belok kiri dah nyampe". "Ya udah, lo sholat aja gih. Gue selesain foto-foto dulu di sini. Nanti kalau gue dah kelar, gue yang nyamperin lu ke Masjid. Lo jangan kemana-mana kalau dah kelar. Susah nyarinya, nanti".
Cool hein.
Dan
lagi-lagi yang aku nggak suka, ya, itu, perpisahan. Lagi dan lagi.
Dang, harus segera nyebrang, untuk ngejar kereta ke KL. Sisa waktu, kami
habiskan kemudian, di Fort Cornwills, liat pantai, foto-foto,
makan-makan, ngobrol seperti sahabat lama, hingga mengantar Dang ke
Jetty.
No comments:
Post a Comment