Saturday, August 10, 2013

Biarkan Bebas (Part 1)

    "Ini sudah berakhir, Sam!" Ucap Ari lantang dengan raut muka yang menampakkan kemurkaan.
    Ari menatap lekat Sam yang berdiri di hadapannya. Wajahnya tampak berminyak, terperas oleh panasnya ruangan yang tak berjendela ditambah bau asap rokok yang menyengat, serta panasnya hati yang kian tergarang.
    Sam mengelap kerngat yang mengucur deras di dahinya.
    Ia mengangguk seraya mengucapkan, "Terserah, kalau memang itu yang lu inginkan!"
    Ari menghisap rokoknya dalam-dalam. Beberapa menit kemudian ia hembuskan asap dari mulutnya yang mengepul bagai cerobing asap perapian. Tak lama kemduian, puntung rokok ia hempaskan ke lantai. Digerusnya dengan kakinya, hingga puntung itu tidak berwujud lagi, binasa. Sam melihat tingkah Ari, Ari pun menyadarinya.
    "Kenapa?" tanya nya ketus.
    Sam tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sekilas Ari membaca yang tersirat dari ekspresi Sam. Tapi buru-buru ia buang pikiran itu dan berusaha untuk tidak mengetahui lebih dalam.
    "Nasib lu, aka saman seperti ini, Sam!" Ucap Ari sambil menunjuk ke puntung yang baru diinjaknya.
    "Lu ngancam gue, Ri?"
    "Apa kurang jelas, Sam? Apa tampaknya tidak seperti yang lu dengar?"

     Tampak Sam begitu gusar. Berkali-kali ia menaik turunkan tangannya, berkali-kali ia renggut rambutnya, berkali-kali ia denguskan nafasnya dengan keras. Sebaliknya Ari, tampaknya ia tidak mengkhawatirkan keadaan Sam. Ia malah menikmati pemandangan di depannya.
    Ari tampak bangga dengan yang dilihatnya, bangga dengan perbuatannya.
    "Kini peran telah berganti, Sam. Gue lah sekarang yang menjad sutradara permainan ini",
bisik Ari dalam hati.
    "Kenapa harus terjadi seperti ini, Ri? Apa tujuan lu memperlakukan gue seperti ini?"
tanya Ari dengan pekik tertahan.
    "Kenapa?"

    Ari tidak segera menjawab pertanyaan Sam tadi, ia malah balik bertanya ke Sam.
    "Ya, kenapa?" tanya Sam kembali.
    Tampakanya Sam benar-benar menginginkan jawaban atas pertanyaan tadi. Tapi justru Ari mengambil sikap diam. Ia hanya tersenyum sinis degan mata dipicingkan.
    Sesaat kemudian mata mereka saling beradu. Ari melihat mata Sam tidak sejernih sebelumnya. Ada sesuatu yang dibendung di balik pelupuk matanya yang membuatnya tampak kemerahan.
    Sam menunggu jawaban Ari, hingga....
    "Jawab, Ri?" gertak Sam tak sabar. Ia langkahkan kakinya setapak mendekati Ari.
    "Tolong, Ri, apa yang lu maksudkan tadi?", lanjutnya.
    Baru kali ini Ari melihat Sam begitu menderita. Sungguh menyentuh dan mengahruskan bagi siapapun yang menyaksikannya. Namun tidak bagi Ari. Hatinya kian membeku saja. Egonya kian memuncak. Kepuasannya kian berada di awang-awang.
    Namun kini Ari angkat bicara,"Kenapa lu tanya? kenapa lu harus mikir? kenapa lu harus peduli omongan gue? Toh selama ini elu nggak peduli sama gue. Lu tahu benar cara memperlakukan gue. Kenapa sekarang lu bertanya seperti itu? Apa yang membuat lu berubah? Percuma lu tanya itu ke gue sekarang ini. Kenapa nggak dari duku, hah?".
    Sam tersental mendengar ucapan Ari yang begitu sinis, dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan Sam.
    "Elu sengaja berbuat ini terhadap gue, Ri!"
ucap Sam dengan kesedihan yang ditutup-tutupi, seperti yang selama ini ia lakukan. Memang Sam benar-benar orang yang pandai menyembunyikan perasaannya.
    "Kenapa lu menjadi orang yang begitu perasa, Sam?"
    "Nggak gue sangka, gue melihat sifat Sam yang selama ini gue nggak lihat",
bisik Ari dengan senyum kepuasan. Ia berdiri tenang, tidak sedikitpun ia tunjukkan rasa ibanya di hadapan Sam, karena memang ia tidak memiliki rasa itu lagi.
    Ari kembali menangkap sesuatu. Semakin jelas ia menangkap emosi yang tependam dari Sam. Kali ini lain dari yang pertama. Mungkin tinggal menunggu saat Sam akan melayangkan kepalan tangannya. Seperti pernah dilakukan Sam beberapa bulan lalu.
    Sam melangkah menjauh dari Ari. Masih dalam ruangan yang itu. Sam kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia tertunduk lesu.
    "Dosa apa yang telah gue perbuat terhadap lu, Ri?
", tanya Sam lagi. Tak bosan ia bertanya, walaupun jawaban-jawaban yang ia terima tidak memuaskannya.
    "Tau apa lu tentang dosa, Sam?".
    Kembali Ari menyulut batang rokoknya lagi. Ia tidak memperdulikan keberadaan Sam dengan asap rokok yang menganggunya. Sebenarnya Sam ingin bersuara, tapi untuk saat ini, mungkin diam lebih baik.
    "Lu ingin membunuh gue dengan asap rokok itu, Ri?".
    "Membunuh lu?", Ari tertawa lepas.
    "Terlalu mudah membunuh lu dengan cara seperti ini, Sam. Apa lu nggak tahu, membunuh itu ada seninya juga".
    "Maafkan gue, Ri. Tolong jangan seperti ini!", ringis Sam, dan tak sedikitpun Ari tersentuh.
    "Diam!" sentak Ari.

No comments:

Post a Comment